Out Bond to Mangli



Aku akan bercerita tentang pengalamanku saat out bond ke Mangli, yang terletak di lereng Gunung Andong, Ngablak, Magelang. Waktu itu hari Sabtu, 28 Maret 2009, seluruh Pengurus dan Pembimbing serta siswa SMK Syubbanul Wathon mengadaka acara out bond untuk merefresh otak karena sebelumnya para siswa mengikuti tes mid semester II & IV. Kami berangkat pada pukul 09.00 WIB menggunakan 3 Truk. Kami sangat senang sekali mengikuti acara tersebut.

Tidak lupa kami berziarah ke makam Mbah Mangli. Beliau adalah salah satu ulama' terkenal di Indonesia. Berikut adalah salah satu cerita mengenai Mbah Mangli yang bersumber dari Tri Budi Hartoyo

Langgar Linggan di Mejing Saksi sejarah syiar Islam Mbah Mangli

BANGUNAN itu sederhana saja. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi tampak demikian kokoh dan bersih terawat baik. Di sekelilingnya terdapat banyak pepohonan rindang, sehingga membuat suasana terasa sejuk dan nyaman. Warga menyebutnya Langgar Linggan. Lokasinya dekat pemukiman penduduk Desa Mejing, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang. Tepatnya di atas tanah wakaf dari KH Khadis, tokoh ulama terkemuka di Mejing, pada dekade 1960-1970.


Pada tahun 1970-an, musala ini menjadi saksi sejarah syiar agama Islam yang pernah dilakukan oleh KH Hasan Ashari, atau lebih beken dengan sebutan Mbah Mangli dari lereng Gunung Andong wilayah Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Magelang.



”Pengajian rutin yang diisi ceramah keagamaan oleh Mbah Mangli, kala itu senantiasa dilaksanakan pada hari Kamis Wage,” kata Ahsin (80), penduduk Mejing yang kerapkali menjadi panitia penyelenggara pengajian.

Acara selapanan itu bermula dari obsesi KH Khadis, yang ingin mengajak Mbah Mangli untuk melakukan syiar Islam di Mejing. Untuk itu, dia mengutus Ahsis dan kawan-kawan sowan ke Mbah Mangli.

Pengganti
Usaha Ahsin tak membuahkan hasil. Kendati sempat menginap di sana, namun Ahsin tidak bisa bertemu dengan ulama karismatik tersebut. Karenanya, KH Khadis terpaksa berangkat sendiri ’menjemput’ Mbah Mangli.

Langgar Linggan itu sendiri menjadi pengganti Masjid Jami Mejing, yang hanya sempat tiga kali digunakan sebagai pusat pengajian Mbah Mangli. Bukan apa-apa, pemindahan itu hanya dilandasi pertimbangan kenyamanan pengunjung.

Masjid Jami posisinya persis di tepi jalan jurusan Magelang-Candimulyo. Praktis selalu dilewati banyak kendaraan. Lalu lalang kendaraan itu tentu saja terasa mengganggu konsentrasi peserta pengajian.

Menurut KH Kholil, Takmir Langgar Linggan, ketika Mbah Mangli wafat pada 1990, pengajian Kamis Wage di Mejing turut terhenti. Beberapa tahun belakangan, tradisi yang pernah mengakar di kalangan masyarakat itu mulai dirintis kembali oleh Gus Munir, menantu Mbah Mangli.


3 komentar:

  1. Aku malah gak tahu kalo Mbah Mangli sudah wafat... Dulu memang setiap pengajian di Mejing banyak yang datang...
    Aku juga pernah Kamping di Mangli... Thanks infonya...

    BalasHapus

Komentar Anda:

slow but sure,,,,